25 Februari 2015, menjadi laga pembuka musim baru untuk Persib. Bukan, bukan Persipura yang dijamu Maung Bandung di Si Jalak Harupat, melainkan New Radiant, tim paling populer di negaranya, Maladewa, dalam laga AFC Cup. Di senja itu, Persib memukul mereka dengan skor telak 4-1.
Mari kita mulai tulisan ini melalui sebuah fragmen kocak mengenai laga pembuka awal musim Persib. Sejauh ingatan yang mampu dirawat, tidak ada di bagian belahan bumi manapun sebuah tim mengawali laga awal musim melompati kompetisi domestiknya. Memang, beberapa liga yang selama ini menjadi panutan seperti di Italia ataupun Spanyol pernah memundurkan jadwal pembukaan kompetisi dengan berbagai alasan dan tuntutan. Namun demikian, itu tidaklah sampai pada tim mereka mengawali laga dari kompetisi yang bukan berasal dari liga domestiknya, semisal Liga Champions atau UEFA Cup. Tapi terkhusus di belahan timur tepatnya bumi Indonesia, bolehlah kita menyebut itu sebagai sebuah konsep kewajaran, sebuah konsep pengecualian dari kematangan yang terlalu matang (re: busuk) yang tidak pernah kunjung membaik.
Pertikaian antara PSSI sebagai federasi yang selalu memegang teguh ajaran FIFA, dengan Kemenpora yang mencoba memulas noda-noda hitam dunia olahraga termasuk di dalamnya sepakbola di negeri ini.Sebab beberapa dokumen yang diminta oleh Kemenpora bersama BOPI-nya kepada PSSI bersama PT. LI-nya tak kunjung diberikan, Menpora bersama BOPI-nya menegaskan bahwa ISL belum layak untuk dijalankan. Entahlah siapa yang benar-benar berada pada muara kebenaran, kita tak ubahnya sekumpulan penonton film drama komedi yang selalu dipermainkan oleh banyak hal-hal kocak macam ini dengan scene-scene yang berbeda.
Namun kita lupakan saja tentang penundaan jadwal, pertikaian, dan segala hal-hal tengik yang kitapun sudah sangat bosan medengarnya. Kita nikmati saja satu senja di laga Asia yang baru dilalui beberapa hari lalu.
Pada satu waktu, kita mungkin pernah memikirkan sesuatu yang sebenar-benarnya tidak pernah terpikirkan bahwa itu akan dapat kita genggam sepaket dengan hal lain yang tidak kalah membuat girang. Misalnya, saat pembagian rapor hasil sekolah. Tidak jarang dari sekian anak, ketika mendapat hasil yang memuaskan akan dapat imabalan dari orangtuanya. Selain bangga dengan hasil akademik, menikmati sepeda baru, misalnya, sebagai imbalan atas prestasi itu adalah paketannya yang membuat girang, toh?
Persib, sebagai tim yang menjuarai Liga Super Indonesia musim lalu berhak mewakili Indonesia pada karnaval Asia. Bagi kita, atau mungkin hanya untuk saya, itu adalah paketan yang membuat girang. Walau karnaval Asia yang dijalani hanyalah kelas kedua. Toh, setidaknya kita boleh bilang bangga Persib selevel di atas tim yang hanya mengikuti karnaval domestik saja.
Sebenarnya Persib bisa saja berlaga di kelas satu untuk menguji tim-tim besar Asia, bahkan juara bertahan Liga Champions Asia 2014, Western Sydney Wanderers. Namun Persib gagal memulangkan momen 1995, di mana mereka mampu bermain di level tertinggi Asia bahkan sampai melangkah ke babak perempat final. Persib kalah telak dari wakil Vietnam, Hanoi T&T, dengan skor 4-0.
Catatan Pelaksanaan
Beberapa hari sebelum pertandingan perdana di AFC Cup, panpel dengan tegas menekankan untuk tidak ada rasis, membatasi wilayah pedagang, dll, dsb. Tapi satu hal saya ingat dari beberapa poin yang disebutkan panpel adalah akan adanya empat ring penjagaan sebelum benar-benar memasuki stadion. Dimulai dari ring empat adalah body cek, ring tiga pemeriksaan tiket, ring dua body cek ulang, dan ring satu penyobekan tiket.
Beberapa hari sebelum pertandingan perdana di AFC Cup, panpel dengan tegas menekankan untuk tidak ada rasis, membatasi wilayah pedagang, dll, dsb. Tapi satu hal saya ingat dari beberapa poin yang disebutkan panpel adalah akan adanya empat ring penjagaan sebelum benar-benar memasuki stadion. Dimulai dari ring empat adalah body cek, ring tiga pemeriksaan tiket, ring dua body cek ulang, dan ring satu penyobekan tiket.
Sebagai catatan, dari empat ring yang disampaikan oleh panpel, justru saya tidak merasakan adanya satupun ring itu. Biasa saja seperti pertandingan ISL ataupun layaknya pertandingan ujicoba. Pemeriksaan dilakukan beberapa meter menuju gerbang stadion. Bukan gerbang wilayah stadion, loh, ya, tapi gerbang masuk menuju tribun. Pemeriksaan tiket, penyobekan tiket, body cek, lalu body cek ulang. Itu susunan yang sebenarnya terjadi di besi pembatas menuju tangga tribun yang dari pemeriksaan ke pemeriksaan lainnya mungkin hanya berjarak 1-2 meter saja.
Jika ingin mengambil perbandingan tentang ring keamanan, beberapa bulan lalu, tepatnya saat Piala Asia U-19 digelar di Myanmar, saya sempat baca beberapa berita dan artikel yang sudah agak lupa persisnya di mana, yang menjelaskan betapa ketatnya pengamanan di sana.
Dimulai dari ring pertama, di mana mobil yang tidak memiliki tanda pengenal khusus diberhentikan sekitar satu kilometer menuju jalan masuk stadion. Ring kedua pengamanan untuk memastikan pemegang ID Card dari konfederasi AFC dan suporter masuk melalui jalan yang sudah ditentukan. Di ring ketiga, penjagaan benar-benar ketat. Untuk gerbang media, pemeriksaan pemegang ID peliputan benar-benar diperhatikan. Pencocokan wajah yang dilakukan oleh petugas keamanan sampai beberapa kali untuk memastikan bahwa ID itu dipegang oleh nama yang tertera dalam kartu itu.
Di sisi lain, barang bawaan menjadi sasaran pemeriksaan berikutnya untuk penonton. Seluruh isi tas diperiksa dan dibuka hingga kantong terkecil.Lolos dari dari pemeriksaan manual, tas pun masih harus masuk ke pemindaian sinar X layaknya di bandara untuk memastikan tidak ada benda berbahaya yang masuk ke stadion.
Jika yang dilakukan panpel Piala Asia U-19 itu sudah termasuk standar yang dibenarkan AFC, apakah yang dilakukan panpel pertandingan Persib di laga AFC Cup sudah cukup? Semoga saja catatan demi catatan tidak hanya dicatat lalu terbuang begitu saja.
Catatan Pertandingan
Namun di luar itu, sebenarnya kita masih bisa menikmati karnaval Asia dalam bentuk sepakbola dengan riang gembira. Pertandingan dalam kompetisi resmi dan nyata. Apalagi, catatan kemenangan jadi bumbu penyedap di hari itu.
Namun di luar itu, sebenarnya kita masih bisa menikmati karnaval Asia dalam bentuk sepakbola dengan riang gembira. Pertandingan dalam kompetisi resmi dan nyata. Apalagi, catatan kemenangan jadi bumbu penyedap di hari itu.
New Radiant sendiri yang menjadi penantang Persib dilaga perdana datang ke Indonesia dengan catatan kurang baik. Musim lalu, dalam karnaval yang sama, mereka menyerah kepada Persipura di dua laga. 3-0 di Jayapura, dan 0-2 di Maladewa.
Persib sendiri bukan bisa seenaknnya, mereka menatap karnaval ini tanpa bomber asing, setidaknya sampai fase grup habis. Tantan yang akan menjadi senjata utama sebagai penggedor. Dan benar saja, Tantan adalah primadona di lini serang Persib di pertandingan pembuka. Alur-alur bola dari Dedi atau Konate tidak akan menemui klimaks yang enak jika bukan Tantan yang menerimanya.
Lalu Dedi Kusnandar,yang berduet dengan Hariono sebagai petarung yang bertugas memotong alur serangan, adalah keseimbangan. Dedi menjadi pemikir lini tengah Persib. Dia seolah menjadi pengolah arus kemana bola akan dialirkan. Apakah memberi ruang pada Konate untuk “ngibing”, atau menggunakan template andalan dengan bermain melalui flank yang telah diisi oleh Atep dan Ridwan.
Namun cukup disayangkan saat bola dialirkan melalui flank yang diisi Atep, kerap kali serangan menjadi kurang optimal. Namaun demikian, Atep tidaklah bermain terlalu buruk. Satu gol bisa ia ciptakan. Tapi jika saja Atep bisa bermain lebih baik, lima gol atau lebih seharusnya bisa bersarang di jala New Radiant.
Saya yakin, coach Emral Abus dan coach Djajang Nurdjaman pasti punya lebih banyak catatan untuk tim. Karena setelah New Radiant, sedikitnya masih akan ada lima pertandingan lagi bagi Persib untuk menetukan seberapa jauh mereka melangkah dalam karnaval ini.
Saya yakin, coach Emral Abus dan coach Djajang Nurdjaman pasti punya lebih banyak catatan untuk tim. Karena setelah New Radiant, sedikitnya masih akan ada lima pertandingan lagi bagi Persib untuk menetukan seberapa jauh mereka melangkah dalam karnaval ini.
Biarlah pelaksanaan pertandingan menjadi catatan dan evaluasi bagi panpel. Kekurangan tim menjadi catatan dan evaluasi tim pelatih. Sebagai bobotoh, yang lebih penting untuk dicatat adalah jadwal karnaval Asia ini. Meluangkan waktu dan menyisihkan uang untuk menikmati gelaran karnaval yang tidak pasti akan setiap tahun bisa dirasakan. Membantu tim dalam urusan melumpuhkan mental siapa saja yang akan bermain-main dengan mereka.
Memang, kadang kala Tuhan dengan sengaja menyimpan bongkahan momen dan rahasia istimewa untuk kemudian disuguhkan pada satu waktu yang tidak terduga. Menjadi generasi yang bisa menikmati tim pujaan mengangkat piala kemudian menari-nari di atas rumput Asia adalah salah satunya disamping jodoh.
Goodluck, Sib!

0 komentar:
Posting Komentar